“Ndak pengen berfoto Kang Dede, mumpung di luar negeri?”, ujar saya sesaat setelah sampai di Bandara Internasional Sydney.
“Ndak ah, belum ada yang menarik”.
Jawaban Kang Dede —sapaan akrab Dede Syarif—, salah seorang peserta MEP dari Bandung, mengingatkan saya untuk tidak melulu mengglorifikasi capaian yang diraih komunitas luar negeri. Terima kasih Kang, kau menegurku di awal mula kunjungan.
Benar memang, Australia maju. Kemajuan itu, bahkan sangat vulgar, apalagi ditilik dengan kesan sepintas lalu. Jalanan tertib nan bersih, moda transportasi publik yang prima serta kehidupan multikultural yang harmoni seringkali dijadikan pintu masuk untuk menumpuk pujian kepada Australia. Alamak……. bila dikumpulkan, tumpukan itu tentu teramat tinggi sebab saya sudah mendapatinya semenjak saya kecil. Di MI —sekolah setingkat Sekolah Dasar— sang guru kerap berkisah tentang kemajuan di negeri seberang. Hingga kuliah pun, saya juga sering menjumpai sang dosen yang membumbumbui ceritanya dengan, “Ketika saya di……, kondisinya tidak seperti ini”.
Saya bukan anti pujian. Tapi pujian berlebih seringkali membutakan kita. Lebih parah lagi bila dibumbui cercaan pada bangsa sendiri. Bangsa pemalas lah, kurang disiplin lah, dlsb.
Saya kira, bangsa Indonesia sudah kenyang dengan informasi tentang kebobrokan. Setiap hari kita dibombardir pemberitaan tentang berbagai macam kebobrokan. Pemilu curang lah, skandal Antasari lah, dna masih banyak lagi.
Kalau boleh memilih, tentu saya tidak ingin membaca berita seperti itu [baca: tidak ada peristiwa tersebut]. Namun, bila tidak mungkin, saya tidak ingin manambah pemberitaaan tersebut kian riuh.
Mumpung masih di hulu kunjungan, akhirnya saya pun menghaturkan salam seraya berujar:
Selamat Pagi, Australia. Bolehkah saya masuk dengan tanpa melulu memujamu? Saya yakin, kamu tidak akan tersinggung.